![]() |
Suasana pembuatan karangan bunga di Pasar Bunga Kayoon Surabaya pada Sabtu, 14 Mei 2022 (Bisnispediakita/Adrianus Adhi). |
BISNISPEDIAKITA, SURABAYA - Semerbak harum bunga tercium bila anda melintasi kawasan ini, Jalan Kayoon Surabaya. Di sana ada Pasar Bunga. Nama lengkap pasar ini Pasar Bunga Kayoon Surabaya.
Letak pasar ini berada di tengah Kota Surabaya, di tepi Sungai Kalimas. Penjual Bunga di Pasar ini sekitar 110 orang. Mereka menjual bunga, karangan bunga dan segala macam kebutuhannya.
Melihat kawasan ini, bisa disimpulkan kalau bisnis bunga sangat menjanjikan, apalagi kawasan ini juga sudah ada sejak orde lama ada. Sudah banyak pula perubahan yang terjadi.
Pemilik Toko Cahaya, Hanna Sirait (57), yang mendirikan usaha rangkaian bunga segar di Pasar Kayoon tahun 1985 bercerita bahwa ia semula menjual rangkaian bunga segar, lalu berkembang ke dekorasi pesta dan pernikahan, kini merambah karangan bunga.
Baru-baru ini, dia merambah bunga artifisial untuk produk yang dijual mengikuti trend yang sudah ada. Bunga Artifisial adalah bunga palsu, pengganti bunga yang sudah ada.
"Saya tahu tren terkini dari seminar-seminar florist, enggak cuma di Surabaya, tapi juga di Jakarta. Ini upaya saya agar terus bisa berinovasi," tegas Hanna kepada bisnispediakita, Sabtu (14/5/2022).
Menurut Hanna trend mengunakan artifisial itu ada sejak 3 tahun ke belakang, atau sebelum pandemi. Soal harga, tambah dia, tergantung dari model dan ukuran yang ada. Range harganya berkisar Rp 200 ribu
"Bunga artifisial juga naik daun, karena sebagian ingin bunganya bisa jadi dekorasi terus (tidak layu)," kata dia.
Walau demikian, tidak hanya berisikan bunga artifisial saja dalam satu rangkaian bunga yang ia buat. Dalam rangkaian itu juga terdapat beberapa rangkaian bunga asli sesuai kebutuhan pelanggan.
"Masyarakat pasti ingin yang kekinian. Misalnya sekarang banyak yang pesan karangan bunga sederhana dengan satu rangkaian bunga, tidak full rangkaian seperti dulu," tambah dia.
Hal yang sama juga diungkap pelaku UMKM lainnya, Bambang Untung (72). Dia mengaku mendapat ide bisnis bunga dengan melihat tren masyarakat. Misalnya model karangan bunga yang terus berkembang. Mulai dari karangan bunga dengan dekorasi penuh bunga hidup, beranjak ke karangan bunga artifisial, karangan bunga styrofoam, hingga karangan bunga cetak tanpa bunga hidup.
“Kalau saya pribadi suka karangan bunga styrofoam dengan tetap ada bunga hidup untuk hiasannya karena sangat nyeni. Tapi ya itu bakal mudak rusak kalau hujan, nah sekarang ada inovasi baru dengan cetak banner, kami ngikut saja,” tandas Untung.
Kedua pelaku UMKM tersebut juga sepakat bahwa bisnis selalu memiliki masa naik-turun. Namun, keduanya berpesan bahwa inovasi selalu dibutuhkan bagi semua jenis bisnis. Termasuk bisnis bunga. ( Miftah Farid Rahmani, Hana Septiana)
Komentar
Posting Komentar